Kisah Sukses Jamaah yang Berangkat Berkali-kali bersama Fitour

Tidak semua orang punya kesempatan berangkat umroh lebih dari sekali. Tapi bagi sebagian jamaah dari Nusa Tenggara Barat, mimpi itu menjadi kenyataan berkat perjalanan mereka bersama Fitour International. Dari cerita-cerita yang beredar di kalangan jamaah, ada rasa yang membuat mereka ingin kembali lagi dan lagi — bukan sekadar untuk menunaikan ibadah, tapi juga untuk merasakan kembali suasana kebersamaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Saya pernah duduk bersebelahan dengan seorang bapak dari Lombok Timur di ruang tunggu bandara. Kami sama-sama akan berangkat umroh, dan ia bercerita kalau ini adalah keberangkatannya yang kelima bersama Fitour. Saya sempat terkejut. “Lima kali, Pak?” tanyaku sambil tersenyum. Ia hanya mengangguk pelan, lalu berkata, “Kalau sudah menemukan yang amanah, nyaman, dan mengerti kebutuhan kita, buat apa pindah?”

Dari Perjalanan Pertama hingga Menjadi Langganan

Kisah bapak tadi dimulai pada keberangkatannya yang pertama sekitar delapan tahun lalu. Waktu itu, ia mengaku cemas karena belum pernah bepergian jauh. Tapi sejak dari manasik hingga pulang kembali ke rumah, ia merasa didampingi dengan sabar oleh mutawif dan tim Fitour. Pengalaman pertama itu begitu membekas, sampai akhirnya ia memutuskan untuk mengajak istri, anak, bahkan kerabatnya di keberangkatan-keberangkatan berikutnya.

Cerita serupa juga datang dari seorang ibu asal Bima. Awalnya ia berangkat bersama rombongan pengajian. Setelah pulang, ia merasa rindu suasana thawaf dan shalat di Masjid Nabawi. Dua tahun kemudian, ia kembali mendaftar. “Bukan cuma rindu Tanah Suci, tapi rindu cara Fitour membuat perjalanan terasa ringan,” katanya sambil tersenyum.

Kenyamanan yang Tidak Berubah Meski Berkali-kali Berangkat

Salah satu alasan jamaah setia adalah konsistensi pelayanan. Setiap kali berangkat, mereka menemukan kenyamanan yang sama: keberangkatan langsung dari NTB, hotel yang dekat dengan masjid, makanan yang cocok di lidah, hingga pendampingan yang hangat.

Seorang kawan saya, yang sudah tiga kali ikut bersama Fitour, pernah bilang, “Rasanya seperti pulang kampung, tapi kampungnya di Makkah dan Madinah.” Kalimat itu membuat saya paham bahwa bagi mereka, perjalanan ini bukan sekadar wisata religi, melainkan perjalanan hati.

Dukungan Penuh dari Tim yang Paham Kebutuhan Jamaah

Banyak jamaah yang sudah lanjut usia atau memiliki kebutuhan khusus. Fitour tampaknya memahami hal ini dan menyiapkan pendampingan ekstra. Ada yang dibantu kursi roda saat thawaf, ada yang diingatkan untuk minum obat, bahkan ada yang ditemani belanja oleh tim agar tidak kebingungan.

Bagi jamaah umroh Nusa Tenggara Barat, rasa aman ini sangat penting. Mereka tahu, meski berada ribuan kilometer dari rumah, ada orang-orang yang siap membantu tanpa diminta.

Hubungan yang Terjalin Melebihi Sekadar Klien dan Penyedia Jasa

Hubungan antara jamaah dan tim Fitour sering kali berlanjut setelah perjalanan selesai. Ada grup WhatsApp yang terus aktif, saling berbagi foto, kenangan, bahkan doa-doa. Tidak jarang, mereka mengatur reuni atau manasik bersama meski belum ada jadwal keberangkatan berikutnya.

Bagi sebagian jamaah, hubungan kekeluargaan ini menjadi alasan utama mereka memilih Fitour lagi dan lagi. “Rasanya aneh kalau berangkat dengan yang lain,” ujar seorang bapak dari Sumbawa yang baru pulang dari umroh ketiganya.

Perjalanan yang Selalu Membawa Cerita Baru

Meski sudah berkali-kali berangkat, jamaah setia mengaku selalu menemukan pengalaman baru. Entah itu shalat di tempat yang sebelumnya belum pernah mereka coba, ziarah ke lokasi bersejarah, atau sekadar momen berbagi makanan dengan jamaah lain.

Salah satu cerita yang membekas bagi saya datang dari seorang kakek yang ikut di rombongan ketiganya. Ia berkata, “Dulu saya berdoa di Multazam dengan cucu laki-laki saya. Dua tahun kemudian, saya datang lagi dan kali ini bersama cucu perempuan. Rasanya seperti melanjutkan doa yang tertunda.”

Bukan Sekadar Perjalanan, Tapi Investasi Spiritual

Bagi jamaah NTB, berangkat umroh berulang kali bukan hanya soal kemampuan finansial, tapi juga soal komitmen untuk menjaga hubungan dengan Allah. Fitour membantu mereka mewujudkan hal ini dengan mengatur perjalanan sedemikian rupa agar setiap keberangkatan memberi makna baru.

Seorang ibu guru dari Dompu pernah berkata, “Setiap kali pulang, saya merasa ada yang bertambah — entah itu rasa syukur, kesabaran, atau semangat beribadah. Itu yang membuat saya ingin kembali.”

Kunci Setia: Rasa Aman, Nyaman, dan Ikhlas

Jika dirangkum, ada tiga kunci yang membuat jamaah setia pada Fitour: rasa aman, kenyamanan, dan pelayanan yang dilakukan dengan ikhlas. Kombinasi inilah yang sulit ditemukan di tempat lain.

Dan seperti kata seorang jamaah senior, “Umroh itu perjalanan hati. Kalau hati sudah percaya, langkah kita jadi ringan.” Fitour tampaknya berhasil memenangkan hati banyak jamaah NTB dengan cara yang sederhana namun tulus.